Tertular Hepatitis B, Begini Cara Mengatasinya

Artikel Kesehatan
08 Sep 2022

dr. Moh. Julwan Pribadi, Sp.PD-KGEH

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

 

Apa itu Hepatitis B

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Premier Jatinegara dr. Moh. Juwan Pribadi menjelaskan bahwa virus hepatitis B adalah salah satu virus yang menyerang sel hati atau di dalam bahasa kedokterannya disebut virus yang hepatotropic. Kita mengenal ada 5 virus utama yang hepatotropik yaitu virus hepatitis A, virus hepatitis B, Hepatitis C, hepatitis D, dan hepatitis E.

Perlu dipahami bahwa virus-virus tersebut berdiri sendiri-sendiri dan mempunyai karakter penyakit yang sendiri-sendiri juga. Misalnya, virus hepatotropik dalam virus hepatitis B apabila masuk ke dalam tubuh manusia akan bersarang dan memperbanyak diri dalam sel hati. Setelah memperbanyak diri atau dalam bahasa medisnya disebut mereplikasi, maka virus-virus yang dihasilkan akan keluar dari sel hati dan dilepaskan ke dalam darah.

Seberapa bahaya hepatitis B

dr. Moh. Julwan mengatakan bahwa masalah Hepatitis B merupakan masalah yang cukup besar dan penting, karena angka kejadiannya di Indonesia cukup tinggi yaitu 7,1 persen dari jumlah penduduk berdasarkan riset kesehatan dasar yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2013. Sedangkan di dunia, Hepatitis B juga merupakan masalah yang besar karena menginfeksi lebih dari 250 juta penduduk dan menyebabkan lebih dari 600.000 kematian pertahun.

Dr. Moh. Julwan melanjutkan bahwa pada kasus hepatitis kronis kebanyakan tidak bergejala, sehingga jangan terkecoh dengan tidak adanya gejala karena proses penyakit berjalan terus walaupun gejala tidak ada. Pada orang dewasa yang baru terinfeksi bisa timbul gejala akut, seperti mual, muntah, nyeri perut, dan sakit kuning.

Jalur penularan Hepatitis B adalah melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh yang mengenai lecet di selaput lendir atau luka di kulit. Seperti pada saat ibu melahirkan atau pada saat berhubungan seksual.

Siapa saja yang berisiko?

Salah satu Dokter Spesialis Penyakit Dalam terbaik di RS Premier Jatinegara ini mengatakan, saat ini perhatian utama ditujukan kepada bayi yang lahir dari ibu pengidap Hepatitis B. Merekalah yang dianggap paling berisiko dan menentukan untuk perkembangan penyakit Hepatitis B kedepannya. Selain kelompok bayi baru lahir, orang dewasa pun ada yang berisiko seperti misalnya pengguna obat suntik atau orang-orang yang mempunyai pasangan mengidap Hepatitis B. Kemudian juga orang-orang yang hidup serumah dengan pengidap Hepatitis B dan juga orang-orang yang berkunjung ke daerah dimana Hepatitis B merupakan penyakit yang endemis.

Komplikasi kronis Hepatitis B

dr. Moh. Julwan menjelaskan bahwa dengan berjalannya waktu, maka peradangan yang berlangsung tadi dapat mengakibatkan perubahan struktur hati. Sehingga sel-sel hati digantikan oleh jaringan parut atau dalam istilah medisnya disebut Fibrosis. Apabila Proses ini berlangsung terus, maka penambahan jaringan parut yang makin banyak akan mengakibatkan pengerasan dan pengecilan hati yang disebut sebagai sirosis hati. Kemudian, jika hati sudah mengalami sirosis maka bisa terjadi kegagalan fungsi dengan ciri-ciri seperti:

  1. Timbul muntah darah.
  2. Cairan di rongga perut yang membuat perut jadi membuncit.
  3. Kedua kaki mengalami pembengkakan .
  4. Gangguan pembekuan darah.
  5. Kehilangan kesadaran.

dr. Julwan melanjutkan, selain timbul sirosis, virus hepatitis B juga bisa mengubah sel hati menjadi sel kanker. sehingga timbulah kanker hati.  Kanker hati bisa terjadi baik sebelum timbul sirosis dan terutama setelah timbul sirosis.

Diagnosis Hepatitis B

Untuk mendiagnosis apakah kamu menderita Hepatitis B, maka pastikan dahulu beberapa hal. Mulai dari apakah ada riwayat keluarga yang mengidap Hepatitis B, kemudian apakah ada kontak dengan orang-orang yang risiko terpajan Hepatitis B atau pengidap Hepatitis B. Jika ada maka segera lakukan pemeriksaan fisik untuk mengkonfirmasi.

Umumnya, Dokter Spesialis Penyakit Dalam melakukan pemeriksaan laboratorium darah untuk mengetahui bentuk dan struktur hati pasien. Maka pemeriksaan yang paling sederhana yang bisa dilakukan adalah pemeriksaan ultrasonografi, kemudian jika ingin mengetahui apakah sudah ada proses pembentukan jaringan parut di hati, maka bisa melakukan pemeriksaan yang disebut sebagai elastografi. Namun jika diperlukan juga bisa melakukan biopsi yaitu mengambil contoh jaringan hati dengan menggunakan jarum.

Pengobatan dan Pencegahannya

dr. Moh. Julwan Pribadi, Sp.PD-KGEH mengatakan bahwa pengobatan Hepatitis B diberikan pada pengidap yang memasuki fase peradangan. Dan juga apabila ditemukan tanda-tanda pembentukan jaringan parut, khususnya terutama kita berikan juga pada pasien yang menderita sirosis.

Pengobatan juga dapat diberikan pada ibu hamil yang mengidap Hepatitis B untuk mencegah penularan ke bayinya. Obat yang digunakan pada saat ini, utamanya adalah obat minum berbentuk tablet dengan sediaan yang bernama tenofovir atau entecavir.

Sedangkan untuk pencegahan, dr. Moh. Julwan bersyukur karena Hepatitis B kini sudah ada vaksinnya. Dengan adanya vaksinasi Hepatitis B maka akan terbentuk antibodi yang disebut dengan anti HBS. Secara garis besar orang-orang yang perlu vaksin Hepatitis B adalah mereka yang memiliki risiko tertular dan menderita penyakit ini. Namun sekali lagi yang jadi perhatian utama saat ini adalah bayi yang baru lahir. Selain vaksinasi untuk mencegah penularan Hepatitis B perlu juga diterapkan pola hidup bersih dan sehat.