Abu Vulkanik Buat Hidung dan Tenggorokan Perih? Ini yang Perlu Dilakukan

07 September 2026 3 min read

Oleh: dr. Iman Pradana Maryadi, Sp.THT-KL - Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan – Bedah Kepala Leher

Erupsi gunung berapi dapat menghasilkan abu vulkanik yang terbawa angin hingga mencapai wilayah yang cukup jauh dari lokasi erupsi. 
Saat berada di udara, partikel abu vulkanik dapat terhirup melalui hidung atau mulut. Paparan ini tidak hanya dapat memengaruhi paru-paru, tetapi juga saluran pernapasan bagian atas seperti hidung dan tenggorok.

tenggorokan perih

Keluhan seperti hidung terasa perih, berai, tersumbat, tenggorokan kering, batuk, hingga rasa tidak nyaman saat menelan dapat muncul setelah terpapar abu vulkanik. Lantas, bagaimana abu vulkanik dapat memengaruhi hidung dan tenggorokan, serta apa yang sebaiknya dilakukan?      

MENGAPA ABU VULKANIK DAPAT MENGIRITASI HIDUNG DAN TENGGOROKAN?

Abu vulkanik terdiri dari partikel kecil berupa fragmen batuan, mineral, dan material vulkanik lainnya. 
Ketika terhirup, sebagian partikel dapat menempel pada mukosa hidung dan tenggorok. Hal ini dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan bagian atas.  Akibatnya, hidung dan tenggorokan dapat terasa kering, gatal, perih, atau tidak nyaman.

APA SAJA KELUHAN YANG DAPAT MUNCUL?

Keluhan akibat paparan abu vulkanik dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pada jumlah dan durasi paparan serta kondisi kesehatan sebelumnya.
Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Hidung terasa perih atau gatal
  • Hidung berair
  • Bersin
  • Hidung terasa tersumbat
  • Tenggorokan terasa kering
  • Tenggorokan terasa gatal atau perih
  • Nyeri tenggorokan
  • Batuk kering
  • Suara terasa serak
  • Rasa mengganjal atau tidak nyaman di tenggorokan

Pada sebagian orang, Keluhan dapat membaik setelah paparan abu dihentikan. Namun, gejala dapat terasa lebih berat pada orang dengan saluran pernapasan yang sensitif atau memiliki kondisi Kesehatan sebelumnya.

APAKAH ABU VULKANIK DAPAT MEMPERBURUK GEJALA RHINITIS ATAU SINUSITIS?

Paparan abu vulkanik dan partikel debu dalam jumlah tinggi dapat mengiritasi mukosa hidung dan saluran pernapasan. Pada orang yang memiliki rhinitis alergi, sinusitis, atau gangguan hidung sebelumnya, paparan abu dapat membuat keluhan seperti hidung tersumbat, bersin, pilek, atau rasa tidak nyaman di area hidung dan wajah terasa lebih berat.

Namun, perlu dipahami bahwa keluhan setelah paparan abu tidak selalu berarti terjadi infeksi sinus. Penyebab keluhan tetap perlu dinilai berdasarkan gejala, lama keluhan, riwayat kesehatan, dan hasil pemeriksaan dokter.

APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN SAAT TERPAPAR ABU VULKANIK?

Beberapa langkah berikut dapat dilakukan untuk membantu mengurangi paparan dan menjaga kenyamanan hidung serta tenggorokan.

  1. Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
    Jika abu masih banyak berada di udara, batasi aktivitas di luar ruangan yang tidak diperlukan. Semakin lama terpapar abu vulkanik, semakin banyak partikel yang berpotensi terhirup.
  2. Gunakan Masker dengan Benar
    Jika harus beraktivitas di luar ruangan, gunakan masker atau pelindung pernapasan yang sesuai.
    Respirator partikulat seperti N95 yang digunakan dengan benar dan terpasang rapat pada wajah dapat membantu mengurangi jumlah partikel abu yang terhirup. Pastikan masker menutupi hidung dan mulut dengan baik.
  3. Hindari Paparan Abu Secara Langsung
    Saat membersihkan abu, gunakan pelindung pernapasan yang sesuai dan hindari cara pembersihan yang dapat membuat abu Kembali berterbangan
  4. Jaga Kebersihan Hidung
    Setelah berada di lingkungan yang terpapar abu, bersihkan wajah dan area sekitar hidung. Lakukan pembersihan rongga hidung dengan larutan saline untuk  membantu mengeluarkan partikel abu dan menjaga kelembapan mukosa hidung.
  5. Jaga Kelembapan Hidung dan Tenggorok 
    Cukupi kebutuhan cairan dan hindari asap rokok selama paparan abu vulkanik. Hal ini dapat membantu menjaga kenyamanan mukosa hidung dan tenggorokan.
  6. Kurangi Abu Masuk ke Dalam Rumah
    Saat paparan abu masih tinggi, tutup pintu dan jendela untuk membantu mengurangi masuknya partikel ke dalam ruangan. Tetap ikuti informasi kualitas udara dan arahan dari otoritas setempat.

SIAPA YANG PERLU LEBIH BERHATI-HATI?

Beberapa kelompok dapat lebih mudah mengalami keluhan ketika terpapar abu vulkanik, antara lain:

  • Orang dengan rhinitis alergi
  • Penderita sinusitis atau gangguan hidung kronis
  • Orang dengan riwayat gangguan saluran pernapasan, seperti asma
  • Anak-anak
  • Lansia

Apabila memiliki pengobatan rutin untuk kondisi THT tertentu, jangan menghentikan atau mengubah penggunaan obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.

KAPAN PERLU MEMERIKSAKAN DIRI KE DOKTER THT?

Keluhan ringan dapat membaik setelah paparan berkurang. Namun, pemeriksaan sebaiknya dilakukan apabila keluhan menetap, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Perhatikan beberapa kondisi berikut:

  • Hidung tersumbat berat atau berkepanjangan
  • Nyeri pada wajah atau area sinus yang semakin berat
  • Mimisan berulang atau sulit berhenti
  • Nyeri tenggorokan yang berat atau tidak membaik
  • Sulit menelan
  • Suara serak yang menetap
  • Keluhan disertai demam atau kondisi tubuh semakin menurun
  • Kesulitan bernapas
  • Keluhan tetap berlanjut meskipun paparan abu sudah dihentikan
  • Kesulitan bernapas atau gangguan jalan napas memerlukan pertolongan medis segera.

F.A.Q (Frequently Asked Questions)

Apakah abu vulkanik dapat menyebabkan hidung tersumbat?
Bisa. Partikel abu dapat mengiritasi mukosa hidung dan memicu peradangan. Akibatnya dapat muncul keluhan seperti hidung berair, bersin, rasa perih, maupun hidung tersumbat.

Mengapa tenggorokan terasa kering setelah terpapar abu?
Partikel yang terhirup dapat mengiritasi dan mengeringkan mukosa hidung serta tenggorok sehingga muncul rasa kering, gatal, perih, atau batuk.

Apakah abu vulkanik dapat memperberat sinusitis?
Paparan debu dan partikel dapat memperburuk keluhan hidung dan sinus, teutama pada orang yang sebelumnya memiliki gangguan hidung atau sinus. Iritasi dan peradangan mukosa dapat menyebabkan hidung semakin tersumbat dan mengganggu fungsi pembersihan hidung alami serta drainase sinus. Namun, keluhan setelah terpapar abu tidak selalu berarti terjadi infeksi sinus 

Apakah hidung boleh dibilas setelah terpapar abu?
Boleh dan dapat membantu. Irigasi hidung dengan larutan saline dapat membantu mengeluarkan partikel abu, mengencerkan lendir, dan menjaga kelembapan mukosa hidung. Gunakan larutan saline yang sesuai untuk irigasi hidung, serta lakukan dengan teknik yang benar.

Kapan harus periksa ke dokter THT?
Pertimbangkan pemeriksaan apabila keluhan menetap atau semakin berat, terutana bila hidung semakin tersumbat atau nyeri wajah semakin berat, mimisan berulang, nyeri tenggorokan berat, sulit menelan, suara serak yang menetap, atau terdapat sesak/gangguan pernapasan.

 

Hubungi Kami

Untuk informasi & buat janji temu Dokter

Tags
THT
dr. Iman Pradana Maryadi, Sp.THT-KL
Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) Lihat jadwal
Loading data...