Aneurisma Otak: Kapan Perlu Coiling dan Tindakan Neuro Intervensi di RSPJ?

24 Desember 2025 3 min read

Oleh: dr. Andika Surya Atmadja, Sp.N, FINA, AIFO-K

Aneurisma otak sering digambarkan sebagai bom waktu di pembuluh darah otak, benjolan kecil pada dinding pembuluh darah yang suatu saat bisa pecah dan menimbulkan perdarahan berat. Masalahnya, banyak aneurisma tidak menimbulkan gejala sama sekali hingga terjadi perdarahan mendadak. Saat aneurisma ditemukan baik secara tidak sengaja saat pemeriksaan otak, maupun setelah timbul keluhan berat maka dokter akan menilai ukuran, lokasi, dan risiko pecahnya. 

Apa itu aneurisma otak? “Benjolan” di pembuluh darah otak

Aneurisma otak adalah pelebaran atau penonjolan dinding pembuluh darah di otak. Bisa dianalogikan seperti kantong kecil yang menonjol di salah satu sisi selang air. Aneurisma bisa berukuran kecil dan stabil bertahun-tahun, tumbuh perlahan atau ditemukan setelah terjadi perdarahan. Faktor yang diduga berperan antara lain:

  • Riwayat keluarga dengan aneurisma
  • Tekanan darah tinggi
  • Merokok
  • Beberapa kelainan bawaan jaringan ikat

Tidak semua aneurisma akan pecah, tapi risiko pecah meningkat bila:

  • Ukuran aneurisma makin besar
  • Lokasinya di area pembuluh darah tertentu
  • Ada faktor risiko lain yang tidak terkontrol

Gejala aneurisma: sering kali diam, kadang baru terasa saat pecah

Banyak aneurisma otak tidak bergejala dan baru diketahui saat dilakukan CT / MRI otak untuk keluhan lain. Namun aneurisma bisa menimbulkan gejala bila:

1. Menekan jaringan di sekitarnya

  • Sakit kepala kronis tertentu
  • Gangguan saraf mata (misalnya kelopak mata turun, penglihatan ganda)

2. Pecah dan menyebabkan pendarahan. Inilah kondisi gawat darurat yang bisa menimbulkan:

  • Sakit kepala mendadak sangat hebat
  • Mual dan muntah
  • Kaku kuduk
  • Sensitif terhadap cahaya
  • Penurunan kesadaran hingga pingsan
  • Kejang

Pada kondisi ini pasien harus segera dibawa ke IGD untuk penilaian dan penanganan darurat.

Pilihan penanganan: observasi, coiling, atau operasi terbuka

Tidak semua aneurisma yang ditemukan harus langsung ditangani dengan tindakan. Keputusan terapi mempertimbangkan ukuran aneurisma, lokasi & bentuk, apakah aneurisma sudah pecah atau belum, usia dan kondisi kesehatan umum pasien, hingga faktor risiko lain. Secara garis besar, pilihan penanganan meliputi:

1. Observasi dan Kontrol Berkala

  • Untuk aneurisma kecil, lokasi tertentu, dan risiko pecah yang dinilai rendah
  • Dilakukan pemantauan berkala dengan pencitraan CT/MR angio dan kontrol faktor risiko.

2. Tindakan endovascular

  • Coiling
  • Kadang dikombinasikan dengan stent atau teknik lain
  • Dilakukan oleh dokter neuro intervensi melalui kateter yang dimasukkan lewat pembuluh darah biasanya dari paha atau pergelangan tangan

3. Operasi terbuka

  • Dilakukan oleh dokter bedah saraf dengan membuka tulang kepala
  • Aneurisma dijepit dengan klip khusus dari luar pembuluh darah

Tim dokter akan menjelaskan kelebihan dan risiko masing-masing metode, lalu merekomendasikan mana yang paling sesuai untuk kondisi aneurisma Anda.

Apa itu coiling endovaskular dan bagaimana cara kerjanya?

Coiling endovaskular adalah tindakan neuro intervensi untuk mengisi kantong aneurisma dari dalam pembuluh darah, tanpa membuka tulang kepala. Secara sederhana langkahnya:

  1. Akses pembuluh darah: Kateter kecil dimasukkan melalui pembuluh darah di paha atau pergelangan tangan dan kateter diarahkan pelan-pelan menuju pembuluh darah otak di lokasi aneurisma dengan panduan sinar-X khusus
  2. Masuk ke dalam aneurisma: Kateter mikro yang lebih kecil dimasukkan ke dalam kantong aneurisma
  3. Mengisi ke dalam aneurisma: Coil dimasukkan ke dalam kantong aneurisma hingga terisi seperti benang di dalam balon, Tujuannya yaitu aliran darah ke dalam aneurisma berkurang dan akhirnya membeku, sehingga risiko pecah berkurang
  4. Evaluasi akhir dengan DSA: Setelah coiling dilakukan angiografi ulang untuk memastikan aneurisma sudah terisi coil dengan memadai dan aliran di pembuluh utama tetap baik

Tindakan ini dilakukan di ruang angiografi dengan pemantauan ketat dan biasanya memerlukan anestesi (umum atau sedasi dalam, tergantung kasus).

Proses tindakan neuro intervensi aneurisma di RS Premier Jatinegara

  1. Diskusi dengan dokter Anda: Penilaian keluhan, riwayat penyakit, dan faktor risiko
  2. Diskusi tim dan perencanaan tindakan: Menentukan apakah aneurisma dipantau saja, ditangani dengan coiling endovascular, atau lebih cocok dengan operasi clipping dan menjelaskan kepada pasien & keluarga mengenai manfaat, risiko, dan alternatif tindakan
  3. Persiapan tindakan: Pemeriksaan darah, jantung, penilaian anestesi dan, instruksi puasa sebelum tindakan serta, pengaturan obat-obatan yang sedang dikonsumsi
  4. Hari Tindakan: Pasien dibawa ke ruang angiografi untuk dilakukan DSA untuk memetakan pembuluh darah dan aneurisma secara detail
  5. Setelah tindakan: Pasien dibawa ke ruang pemulihan atau ruang perawatan intensif dan pemantauan ketat terhadap tekanan darah, kesadaran, nyeri, dan tanda-tanda komplikasi

Perawatan Setelah Tindakan dan Kontrol Jangka Panjang

Setelah aneurisma, pemantauan dan kontrol tetap penting:

  • Perawatan segera pasca Tindakan
  • Kontrol faktor resiko
  • Kontrol ulang gambaran pembuluh darah
  • Rehabilitasi bila diperlukan

Perjalanan setiap pasien bisa berbeda-beda, dan rencana jangka panjang akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Kapan sebaiknya konsultasi ke dokter saraf / tim neuro intervensi?

Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter saraf dan tim neuro intervensi bila:

  • Sudah didiagnosis memiliki aneurisma otak pada CT/MRI/angiografi
  • Mengalami sakit kepala sangat hebat mendadak, terutama bila disertai mual, muntah, kaku kuduk, atau penurunan kesadaran
  • Ada riwayat aneurisma otak dalam keluarga, terutama bila disertai keluhan saraf tertentu
  • Dokter sebelumnya menyarankan evaluasi lebih lanjut terkait kemungkinan kelainan pembuluh darah otak

Ingat, tidak semua aneurisma harus segera ditangani dengan tindakan. Namun, mengetahui kondisinya secara jelas dan berdiskusi dengan tim yang berpengalaman akan membantu Anda dan keluarga mengambil keputusan yang lebih tenang dan terarah.


FAQ:

1. Apakah semua aneurisma harus dioperasi atau di-coiling?

Tidak, keputusan tergantung ukuran, lokasi, bentuk aneurisma, apakah sudah pecah atau belum, serta faktor risiko individu. Ada aneurisma yang cukup dipantau berkala, dan ada yang disarankan untuk ditangani dengan coiling atau operasi.

2. Coiling itu bukannya “pasang kawat di otak”? Aman nggak, Dok?

Coiling dilakukan dari dalam pembuluh darah dengan alat khusus, bukan “dipasang di otak” secara kasar. Setiap tindakan punya risiko, tapi pada pasien yang tepat dan di tangan tim berpengalaman, coiling dapat membantu menurunkan risiko pecahnya aneurisma di masa depan.

3. Apakah semua pasien kanker perlu MRI 3T?

Aneurisma diisi dengan coil sehingga aliran darah ke dalam kantong aneurisma berkurang. Secara fungsi, ini membantu menurunkan risiko pecah. Namun, tetap perlu kontrol follow-up sesuai anjuran dokter.

Baru didiagnosis memiliki aneurisma otak, atau keluarga Anda sedang menjalani perawatan perdarahan otak akibat aneurisma?
Jangan ragu untuk berdiskusi dengan tim neurologi dan neuro intervensi di RSPJ.
Tim kami siap menjelaskan pilihan penanganan, termasuk coiling endovaskular, secara komprehensif dan dengan bahasa yang mudah dipahami.
 

Hubungi Kami

Untuk informasi & buat janji temu Dokter

Tags
dr. Andika Surya Atmadja, Sp.N FINA, AIFO-K
Saraf Lihat jadwal
Loading data...