Mengenal Skoliosis: Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

21 Oktober 2026 4 min read

Oleh: dr. Damiartha Simorangkir, Sp.OT - Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi

pedi-scoliometer

Pernahkah kamu melihat seseorang dengan posisi bahu yang tidak sejajar, pinggang tampak lebih tinggi di satu sisi, atau tubuh yang cenderung miring? Kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda skoliosis, yaitu kelainan bentuk tulang belakang yang terkadang tidak disadari sejak awal.

Skoliosis dapat dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Kondisi ini ditandai dengan lengkungan tulang belakang ke arah samping yang dapat menyerupai huruf C atau S. Pada sebagian orang, skoliosis tidak menimbulkan keluhan berarti. Namun, pada kondisi tertentu, lengkungan dapat bertambah dan menimbulkan gangguan yang memerlukan penanganan medis.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali penyebab, gejala, dan pilihan penanganan skoliosis agar kondisi ini dapat diperiksa dan ditangani sesuai kebutuhan.

Apa Itu Skoliosis?

Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang ditandai dengan lengkungan abnormal ke arah samping dan dapat disertai rotasi atau perputaran tulang belakang. Jika dilihat dari belakang, bentuk lengkungan tersebut dapat menyerupai huruf C atau S.
Kondisi ini dapat terjadi pada berbagai kelompok usia dan jenis kelamin. Skoliosis juga dapat berkembang secara perlahan tanpa disertai gejala yang jelas, sehingga terkadang baru diketahui ketika perubahan postur tubuh mulai terlihat.
Tingkat keparahan skoliosis berbeda pada setiap orang. Ada yang hanya memerlukan pemantauan berkala, sementara sebagian lainnya membutuhkan penanganan lebih lanjut untuk mencegah perkembangan lengkungan dan mengatasi keluhan yang menyertai.

Apa Penyebab Skoliosis?

Penyebab skoliosis beragam, bergantung pada jenis dan kondisi yang mendasarinya. Beberapa faktor yang berkaitan dengan skoliosis meliputi:

  • Faktor bawaan lahir: Skoliosis kongenital terjadi akibat perkembangan tulang belakang yang tidak terbentuk secara normal sejak dalam kandungan.
  • Faktor genetik: Riwayat keluarga dapat berkaitan dengan risiko skoliosis pada seseorang, meskipun tidak semua orang yang memiliki anggota keluarga dengan skoliosis akan mengalami kondisi yang sama.
  • Proses penuaan: Pada orang dewasa, perubahan degeneratif pada tulang belakang seiring bertambahnya usia dapat menyebabkan skoliosis degeneratif.
  • Gangguan saraf dan otot: Kondisi yang mempengaruhi fungsi saraf dan otot dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam menopang tulang belakang, sehingga berkontribusi terhadap terbentuknya lengkungan abnormal.
  • Infeksi atau cedera tulang belakang: Kondisi tertentu yang mempengaruhi struktur tulang belakang, termasuk infeksi atau cedera, dapat berkaitan dengan kelainan bentuk tulang belakang.
  • Skoliosis idiopatik: Skoliosis idiopatik merupakan jenis yang paling umum. Istilah idiopatik berarti penyebab pastinya belum diketahui. Jenis ini sering ditemukan pada anak-anak dan remaja selama masa pertumbuhan.

Penting untuk diketahui bahwa tidak semua kasus skoliosis dapat dicegah. Upaya menjaga kesehatan tulang belakang melalui aktivitas fisik dan kebiasaan hidup sehat tetap bermanfaat, tetapi tidak menjamin seseorang terhindar dari skoliosis.

Kenali Gejala Skoliosis

Skoliosis dapat muncul tanpa keluhan yang jelas. Pada sebagian orang, tanda awalnya justru terlihat melalui perubahan bentuk dan keseimbangan tubuh.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Tubuh tampak miring, baik ketika berdiri maupun berjalan.
  • Bahu atau pinggang tidak sejajar, dengan salah satu sisi terlihat lebih tinggi.
  • Salah satu sisi punggung lebih menonjol, terutama ketika tubuh membungkuk ke depan.
  • Perbedaan posisi pinggul, sehingga bentuk tubuh tampak tidak simetris.
  • Nyeri punggung, yang dapat muncul pada sebagian penderita, khususnya pada kondisi tertentu pada orang dewasa.
  • Perubahan pola berjalan, terutama jika kelainan tulang belakang memengaruhi keseimbangan atau fungsi saraf.

Pada skoliosis yang berat, kondisi ini dapat disertai gangguan saraf, seperti kesemutan atau kebas. Dalam kondisi tertentu, kelengkungan yang berat juga dapat mempengaruhi fungsi pernapasan dan menimbulkan sesak napas.
Gejala-gejala tersebut tidak selalu menunjukkan skoliosis. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan penyebabnya dan menentukan apakah terdapat kelainan pada tulang belakang.

Bagaimana Skoliosis Didiagnosis?

Diagnosis skoliosis dilakukan melalui pemeriksaan medis untuk menilai bentuk, keseimbangan, dan kondisi tulang belakang.
Dokter dapat memeriksa kesimetrisan bahu, tulang belikat, pinggang, serta pinggul. Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan adalah Adams Forward Bend Test, yaitu pemeriksaan dengan meminta pasien membungkukkan tubuh ke depan untuk melihat apakah terdapat bagian punggung yang lebih menonjol.

Jika ditemukan tanda yang mengarah pada skoliosis, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan rontgen untuk memastikan diagnosis dan mengukur derajat lengkungan tulang belakang.

Hasil pemeriksaan tersebut membantu dokter menentukan tingkat keparahan skoliosis, menilai kemungkinan perkembangannya, serta memilih penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Bagaimana Penanganan Skoliosis?

Penanganan skoliosis ditentukan berdasarkan derajat lengkungan, usia pasien, sisa masa pertumbuhan, perkembangan kondisi, dan gejala yang menyertai.
Beberapa pilihan penanganan yang dapat direkomendasikan dokter meliputi:

  1. Observasi dan pemantauan berkala: Pada skoliosis dengan lengkungan ringan dan tidak menunjukkan perkembangan bermakna, dokter dapat menyarankan pemantauan berkala. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah lengkungan tetap stabil atau mengalami perubahan.
  2. Penggunaan brace: Pada anak-anak atau remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, penggunaan brace atau penyangga tulang belakang dapat dipertimbangkan jika terdapat risiko lengkungan bertambah berat. Tujuannya terutama untuk membantu mengendalikan perkembangan lengkungan, bukan menjamin tulang belakang kembali lurus sepenuhnya.
  3. Operasi koreksi skoliosis: Pada skoliosis dengan lengkungan berat, perkembangan yang terus berlanjut, atau kondisi tertentu yang mempengaruhi fungsi tubuh, dokter dapat mempertimbangkan operasi koreksi skoliosis. Keputusan operasi dilakukan berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pasien, derajat lengkungan, kemungkinan komplikasi, serta manfaat dan risiko tindakan.

Tidak semua penderita skoliosis membutuhkan operasi. Oleh karena itu, pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter spesialis ortopedi dan traumatologi penting untuk menentukan pilihan penanganan yang tepat.

Apakah Skoliosis Bisa Dicegah?

Tidak semua jenis skoliosis dapat dicegah, terutama skoliosis yang berkaitan dengan faktor genetik, kelainan bawaan, atau penyebab yang belum diketahui secara pasti.
Meski demikian, menjaga kebugaran tubuh melalui olahraga teratur dapat membantu mendukung kesehatan otot dan tulang belakang. Aktivitas fisik juga bermanfaat untuk menjaga fungsi tubuh secara keseluruhan.

Pada anak-anak yang memiliki riwayat keluarga dengan skoliosis atau menunjukkan perubahan postur tubuh, pemeriksaan dapat dipertimbangkan untuk mendeteksi kemungkinan kelainan sejak dini.

Perlu diingat bahwa olahraga tidak menjamin skoliosis dapat dicegah dan tidak menggantikan pemeriksaan medis. Jika terdapat tanda yang mencurigakan, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter agar dapat dievaluasi lebih lanjut.

FAQ (Frequently Asked Questions)

Apakah skoliosis bisa dialami oleh semua usia?
Ya. Skoliosis dapat terjadi pada anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Penyebab dan karakteristiknya dapat berbeda tergantung pada usia serta kondisi yang mendasarinya.

Apa saja tanda awal skoliosis yang perlu diperhatikan?
Tanda awal yang dapat terlihat antara lain bahu atau pinggang tidak sejajar, salah satu sisi punggung lebih menonjol, serta tubuh yang tampak miring. Namun, tanda tersebut belum cukup untuk memastikan diagnosis skoliosis.

Apakah skoliosis selalu menimbulkan nyeri punggung?
Tidak. Sebagian penderita skoliosis tidak merasakan nyeri. Pada kondisi tertentu, terutama pada orang dewasa dengan perubahan degeneratif tulang belakang, skoliosis dapat disertai nyeri atau keluhan lainnya.

Apakah semua penderita skoliosis harus menjalani operasi?
Tidak. Penanganan skoliosis bergantung pada tingkat keparahan dan perkembangan lengkungan. Sebagian pasien cukup menjalani pemantauan berkala, sedangkan pasien tertentu mungkin memerlukan brace atau operasi berdasarkan rekomendasi dokter.

Apakah skoliosis dapat dicegah dengan olahraga?
Olahraga teratur membantu menjaga kesehatan otot dan tulang belakang, tetapi tidak dapat mencegah semua jenis skoliosis. Pencegahan bergantung pada penyebabnya, dan skoliosis yang dicurigai tetap perlu diperiksa oleh dokter.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?
Pemeriksaan dianjurkan jika terlihat perubahan postur, seperti bahu atau pinggul yang tidak sejajar, punggung menonjol di satu sisi, atau tubuh cenderung miring. Jika muncul kelemahan anggota gerak, gangguan berjalan yang baru terjadi, atau gangguan buang air kecil maupun besar, segera cari pertolongan medis.

Kenali Tanda Skoliosis dan Dapatkan Penanganan yang Tepat

Skoliosis merupakan kelainan bentuk tulang belakang yang dapat dialami oleh berbagai kelompok usia dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Kondisi ini terkadang tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga perubahan postur tubuh perlu diperhatikan.
Meskipun tidak semua kasus dapat dicegah, deteksi dini dan pemeriksaan yang tepat dapat membantu dokter menilai kondisi tulang belakang serta menentukan langkah penanganan yang sesuai.

Jika kamu atau anak menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada skoliosis, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopedi dan traumatologi di RS Premier Jatinegara untuk mendapatkan evaluasi dan rekomendasi penanganan sesuai kondisi.
 

Hubungi Kami

Untuk informasi & buat janji temu Dokter

Tags
dr. Damiarta, Sp.OT
Bedah Tulang dan Traumatologi Lihat jadwal
Loading data...